Kumpulan Cerpen Cinta, Kisah Cinta Romantis Terbaru

Categories: cerita, cinta - On: Thursday, April 21st, 2016

Cerpen CintaChoco Cookiss

Malam itu, ia benar-benar lesu, kecewa, dan pastinya sedih. Ia membutuhkan teman untuk menenangkan dirinya. ia duduk di sebuah bangku di pinggir jalan yang biasa digunakan pejalan kaki untuk istirahat. Lalu, ia menelepon sahabatnya. “Hirako-kun, bisakah kau menemaniku sebentar? Aku berada di seberang kantormu, aku tunggu, datanglah sekarang juga.” kata Yamako. Setelah beberapa menit, sahabatnya itu akhirnya datang juga.

“Hei, kenapa meneleponku di saat aku sedang lembur seperti ini? Kau ini … benar-benar, sudahlah ada apa? Apa ada masalah?” kata Hirako.
“Kau harus tanggung jawab, karena mengikuti saranmu aku jadi patah hati seperti ini.” kata Yamako.
“Ta-tanggung jawab? Hei, kau itu laki-laki, mana mungkin aku ini pecinta hom*s*ks.” kata Hirako.
Yamako langsung menepuk bahu sahabatnya dengan keras karena kesal.

“Hei, kau ini … sudah merepotkanku sekarang mau menyakitiku.” kata Hirako yang terkejut setelah ditepuk bahunya.
“Hanako … dia sudah punya pacar, kenapa kau tidak bilang padaku? Aku sudah benar-benar mempersiapkan hatiku untuk menyatakan cinta, tapi dia malah …. heeee aku tidak sanggup hidup lagi Hirako.” kata Yamako.
“Kalau soal itu mana aku tahu, kau hanya meminta saranku tentang perasaanmu itu, tapi kau tidak pernah menyuruhku untuk mencari tahu apa ia sudah punya pacar atau belum.” sahut Hirako.

“Lalu … sekarang aku harus apa? Rasanya aku benar-benar terluka.” kata Yamako.
“Makan saja cokelat, itu dapat menghilangkan stres dan carilah wanita lain, jangan terus-terusan mengharapkan Hanako, dia itu memang tidak selevel denganmu, terkadang sebagai manusia diri kita ini harus lebih dahulu menyadari siapa kita, semangat kawanku.” kata Hirako.
“Ya, hanya kau yang dapat menenangkanku ketika perasaanku kacau balau seperti ini, kalau begitu aku pulang saja lagi pula aku hanya mengganggu kerjamu.” kata Yamako.
“Baguslah, kalau kau sadar itu, hati-hati di jalan, banyak orang jahat berkeliaran, termasuk dirimu.” kata Hirako meledek. Yamako hanya tersenyum pahit, lalu pulang ke rumah sewaannya itu untuk beristirahat.

Besok pagi, Yamako pergi ke kampus, ia mampir dulu ke sebuah mini market untuk membeli cokelat sesuai saran Hirako. Saat berada di deretan tumpukan cokelat berbagai variasi, Yamako melihat-lihat cokelat yang akan ia beli. “Yang ini sepertinya enak, ah tapi aku alergi kacang, tapi yang satunya isi kismis, aku tidak suka kismis, baiklah aku pilih yang original saja, rasa asli cokelat tanpa dicampur bahan yang lain pasti lebih enak, sebenarnya aku tidak suka makanan ini, tapi aku ikuti saja saran Hirako.” kata Yamako dalam pikirannya. Saat di kasir, di depannya ada seorang gadis yang juga membeli cokelat, Yamako mengantre di belakang gadis itu. “Berapa harganya?” tanya gadis itu.

“70 sen, apa anda juga membeli cokelat itu?” kata penjual itu.
“Tidak, aku hanya membeli yang satu ini.” kata gadis itu.
“Hei, dia itu bicara padaku, kau terlalu lama mengeluarkan uang sedangkan aku sedang buru-buru, dasar anak sekolah kalau susah mengeluarkan uang tidak perlu beli.” kata Yamako kepada gadis yang mengenakan seragam sekolah.
“Apa? Hei, aku tidak peduli kau sekaya apa, aku memang hemat tapi aku tidak miskin walaupun uang saku yang ku miliki sedikit, lihat dompetku, isinya lebih tebal daripada dompetmu.” kata gadis itu.

Yamako melirik isi dompetnya dan membandingkannya dengan isi dompet gadis itu, “Lalu apa? Aku hanya menyinggung gerakanmu yang lambat itu.” kata Yamako tidak terima dipermalukan. “Heh, laki-laki memang tidak pernah mau mengakui kekalahannya, pasti dirimu itu payah sekali.” sahut gadis itu.
“Harganya 30 sen.” kata penjual itu kepada Yamako.
“Lihat itu, cokelatmu lebih murah dari pada cokelatku, sekarang akui saja kalau kau lebih pelit dari pada aku.” kata gadis itu. Yamako tidak mempedulikannya.
Mereka berdua meninggalkan mini market setelah mengambil cokelat mereka masing-masing. Tiba-tiba gadis itu berhenti, lalu ia membalikkan badannya dan meneriaki Yamako.

“Hei, kau? Itu cokelatku, kau mengambil cokelat yang salah.” kata gadis itu sambil mengejar Yamako yang langkahnya lebih besar. Gadis itu menepuk belakang Yamako dan menahannya, “Apa lagi yang kau inginkan? Kau mau mencari masalah denganku?” kata Yamako.
“Itu cokelatku dan ini cokelatmu, kembalikan.” kata gadis itu.
“Gadis lelet, cokelatku tidak ada isinya dan cokelat yang kau pegang juga tidak ada isinya, apa bedanya? Tidak masalah bukan kalau tertukar? Kau membuang waktuku saja.” kata Yamako.

“Cokelat kita berbeda, yang aku pilih memiliki aroma cherry sedangkan milikmu cokelat tanpa aroma, lagi pula milikku lebih mahal dari pada cokelatmu, kembalikan.” kata gadis itu. “Sudah sana pergilah, aku bisa terlambat karena dirimu.” kata Yamako tidak peduli.
“Baiklah, kalau begitu aku juga akan bersikap egois padamu.” kata gadis itu. Gadis itu menaruh cokelat yang ia pegang ke dalam tas Yamako, lalu ia menarik cokelat yang hendak dimakan Yamako. “Hei, kau ini, hentikan, kau bisa membuatku tersedak.” kata Yamako.

Karena mereka saling tarik menarik dan tidak ada yang mau mengalah, cokelat itu terbelah menjadi dua bagian, tapi setelah aksi tarik menarik gadis itu tidak sengaja terjatuh ke arah Yamako. Yamako dan gadis itu sama-sama jatuh dan terbaring di trotoar jalan, gadis itu menindih tubuh Yamako hingga ia tidak sengaja mencium bibir Yamako yang sedang belepotan cokelat. Rambut panjang lurus gadis itu yang terurai menutupi wajah mereka sehingga orang yang melewati jalan itu tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, mereka saling bertukar pandangan selama beberapa menit, lalu terdengar teriakan dari gadis itu saat ia tersadar dari lamunannya.

“Hei, kenapa kau berteriak?” kata Yamako bingung melihat gadis itu.
Gadis itu memukul bahu Yamako, lalu segera bangun dari tubuh Yamako.
“Beraninya kau menciumku.” kata gadis itu dengan nyaring, banyak orang menoleh ke arah mereka.
“Hei, hei, apa yang kau lakukan? Aku masih terbaring di jalan seperti ini dan kau berteriak menuduhku menciummu, di sini banyak orang.” kata Yamako bingung dan cemas.
“Memang iya.” sahut gadis itu. Yamako bangun dari posisi.

“Selera makanku jadi hilang karena dirimu, aku harus memberimu pelajaran untuk menghormati yang lebih tua.” kata Yamako. Gadis itu malah menampar wajahnya sambil menitikkan air mata, Yamako memegang pipinya yang merah.
“Aku harap aku tidak bertemu denganmu lagi.” kata gadis itu, ia meninggalkan Yamako sendiri di jalan.
“Astaga, pipiku sakit sekali.” kata Yamako sambil mengelus pipinya menuju kampus.

Besoknya, Yamako duduk di taman sambil mendengarkan musik dan membaca komik, ia menikmati pemandangan bunga sakura di taman itu dan menikmati angin di musim semi. Tiba-tiba, ada seorang gadis duduk di sampingnya, Yamako pun refleks menoleh ke arah gadis itu. “Oh, kau … gadis yang …, Hah Jepang memang negara yang sempit.” kata Yamako sambil memperhatikan wajah gadis itu.
“Heuh, kalau tahu kau ada di sini aku tidak akan duduk di tempat ini, aku pergi saja.” kata gadis itu yang hendak meninggalkan Yamako. Yamako menahan tangan gadis itu, “Duduklah, kalau kau ingin duduk, kursi lain sudah penuh.” kata Yamako, gadis itu kembali duduk setelah melihat sekelilingnya begitu banyak pengunjung yang berdatangan.

“Maafkan aku soal kemarin, ini aku kembalikan cokelatmu dengan yang baru dan aroma yang sama, kemarin aku melihatmu menangis setelah menamparku, maaf ya.” kata Yamako dengan halus dan suara yang lembut.
“Aku tidak mau menerimanya, ambillah kembali, aku ke mari bukan untuk makan cokelat.” kata gadis sambil memasang wajah cemberut.
“Diihat dari penampilanmu … kau berseragam anak sekolah, pantas saja gadis sepertimu sangat sensitif.” kata Yamako sengaja memancing emosi gadis itu.

“Apa?” kata gadis itu kembali emosi.
“Ahaha, aku sudah tahu kau akan bicara jika dipancing, haruskah aku seperti itu setiap bertemu denganmu? Namamu itu bagaimana cara membacanya? Tidak ditulis dalam huruf hiragana ataupun katakana.” kata Yamako memperhatikan nama gadis itu yang tertulis di seragamnya.
“Kau tidak mengerti, bukan? Namaku bukanlah urusanmu.” kata gadis itu.
“Sepertinya kau bukan orang jepang, kau harus tahu budaya suatu negara, di Jepang kami yang muda sangat tunduk dan hormat pada yang lebih tua, kami tidak boleh melawan atau menyela perkataan orang yang lebih tua, kau harus tahu itu, karena aku perhatikan sikapmu itu kurang etis, aku mengatakannya bukan untuk meledekmu.” kata Yamako. Gadis itu hanya diam dan mengacuhkan omongan Yamako.

“Heuh, percuma saja kau ini keras kepala.” kata Yamako memperhatikan gadis itu.
“Untuk apa kau menceramahiku? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali.” kata gadis itu.
“Kalau begitu kau harus kenal dulu siapa aku, aku Yamako Takeda, dan kau?” kata Yamako.
“Nam Yoo Rin.” sahut gadis itu dengan sinis.

“Apa kau ini dari korea? Korea mana? Selatan? Utara?” tanya Yamako.
“Seoul, kau pasti tahu itu korea mana?” kata Yoo Rin.
“Jadi … bagaimana aku memanggilmu? Nam Yoo Rin-chan atau Nam Yoo Rin-kun?” kata Yamako.
“Yoo Rin, itu sebutanku, tidak perlu pakai chan ataupun kun.” kata Yoo Rin.
“Chan itu panggilan akrab, sedangkan kun untuk yang lebih muda, bukan berarti aku merubah namamu.” kata Yamako.
“Aku tahu itu, tapi aku tidak suka.” kata Yoo Rin.

“Seketika kau berubah menjadi orang yang dingin, padahal kau ini terlihat orangnya hangat.” kata Yamako, lalu ia menoleh ke arah Yoo Rin, tapi gadis itu sudah tidak ada dan meninggalkannya. Yoo Rin mengayuh sepedanya melewati Yamako yang melihatnya. “Hei, kenapa ia berbuat seenaknya?” kata Yamako menggerutu. Yamako pun mengejar gadis itu untuk mengembalikkan cokelat sebagai permintaan maafnya. Entah mengapa Yoo Rin jadi tersenyum melihat kelakuan Yamako yang begitu ramah dan sangat iseng. Yoo Rin memberhentikan sepedanya dan duduk bersama Yamako di bawah pohon sakura.

“Huh, cepat sekali kau mengayuh sepedamu, aku sangat lelah mengejarmu.” kata Yamako.
“Aku tidak pernah menyuruhmu mengejarku, kau memang selalu mengejarkan hal-hal yang tidak aku minta, berikan padaku cokelatnya.” kata Yoo Rin yang kembali ceria.
“Setelah memberi wajah yang cemberut, sekarang kau baru meminta cokelatnya.” kata Yamako.
“Kau ingin aku maafkan atau tidak?” kata Yoo Rin.
“Baiklah, maafkan aku atas cokelatmu waktu itu.” kata Yamako, Yoo Rin tersenyum menerima cokelat dari Yamako.
“Teruslah ceria seperti itu, walaupun saat kau ceria kau juga cerewet, tapi … kau terlihat cantik jika tertawa.” kata Yamako, Yoo Rin terdiam dengan cokelat menempel di mulutnya.

“Oh, begitu.” kata Yoo Rin menanggapi Yamako.
“Jorok sekali cara makanmu.” kata Yamako.
“Jorok apanya?” tanya Yoo Rin.
“Cokelatmu belepotan di sekitar mulutmu.” kata Yamako.
“Kemarin kau juga belepotan makan cokelatnya.” kata Yoo Rin.
“Bersihkan itu dengan tisu.” kata Yamako.
“Aku tidak punya tisu, nanti saja aku bersihkan.” kata Yoo Rin.

Yamako ingin membersihkan mulut Yoo Rin dengan tangannya, tapi tangannya sendiri kotor, lalu ia memperhatikan mulut Yoo Rin yang penuh cokelat. Tiba-tiba, Yamako memeluk Yoo Rin yang belepotan dengan cokelat. “Bersihkan cokelat di mulutmu itu dengan bahuku, tidak apa bajuku kotor.” kata Yamako. Yoo Rin yang tidak suka jika ada laki-laki yang melakukan itu, seketika ia malah terdiam selama beberapa menit, setelah itu ia mendorong tubuh Yamako.

“Kenapa kau mendorongku?” kata Yamako.
“Kau bertanya kenapa? Untuk apa kau memelukku?” tanya Yoo Rin.
“Apa aku berbuat salah? Aku hanya menyuruhmu untuk membersihkan mulutmu.” kata Yamako yang bingung.
“Aku sangat tidak suka ada laki-laki yang sembarangan seperti itu.” kata Yoo Rin.

“Bukankah kemarin kau menciumku saat sedang makan cokelat? Kau lebih parah dari pada diriku,” kata Yamako.
“Jadi kau ingin membalasku karena tidak terima, aku tidak sengaja melakukan itu.” kata Yoo Rin.
“Hei, aku bukan laki-laki murahan seperti yang kau pikirkan.” kata Yamako.
“Aku juga tidak murahan, aku tahu kau berwajah tampan dan imut, tapi kau tidak perlu tebar pesona seperti itu padaku.” kata Yoo Rin yang langsung meninggalkan Yamako dengan sepedanya. Yamako bingung saat kembali mengingat kejadian itu, ia benar-benar tidak mengerti kenapa ia melakukan itu pada gadis yang masih belia. Yamako menceritakan hal itu pada sahabatnya Hirako di rumahnya.

Hirako secara tiba-tiba menyemburkan minumannya saat mendengar cerita Yamako, “Kenapa kau jadi sial seperti itu?” kata Hirako sambil menertawakan Yamako.
“Entah, dia gadis yang cerewet, aku sedang terbaring di jalan karena dirinya lalu ia berteriak seolah aku telah melecehkannya.” kata Yamako.
“Tapi kau menyukainya, kan?” kata Hirako menyinggung Yamako.
“Aku tidak tahu, kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Yamako.

“Mendengar ceritamu itu, aku merasa kau menyukainya, kau menceritakan bagaimana ia bersikap itu karena kau menyukai sifatnya yang ceria walaupun tidak mengenal sopan santun dan kau melakukan suatu hal yang tidak pernah gadis itu minta untuk menjadi alasan agar bisa bertemu dengannya.” kata Hirako.
“Aku tidak tahu, aku sendiri tidak memahami perasaanku.” kata Yamako.
“Entahlah, terserah padamu, kau menyukainya atau tidak, nanti kau sendiri yang akan tahu.” kata Hirako.
“Tapi, itu tidak mungkin terjadi, dia masih sangat belia, sedangkan aku bisa dibilang lebih dari senior, tidak mungkin ia akan menerimaku.” kata Yamako.
“Aku tidak bisa memberi kesimpulan pada pernyataanmu itu karena cinta itu tidak terduga, ada kalanya aku juga tidak mengerti beberapa hal tentang perasaan dan cinta.” kata Hirako.

Semalaman Yoo Rin berbaring di kamarnya tanpa menutup matanya, ia memikirkan perasaannya yang membuatnya bingung. Sampai di sekolah pun ia masih memikirkannya.
“Ya-mako, kenapa harus dia?” kata Yoo Rin.
“Nam Yoo Rin, bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya gurunya. Yoo Rin hanya diam sambil melamun.
“Apa perlu aku memanggil namamu dua kali, Nam Yoo Rin?” tanya gurunya.
“Hah, Sensei, maaf tadi aku …” kata Yoo Rin yang bingung untuk bicara.
“Sial, aku jadi seperti ini karena dia.” kata Yoo Rin menggerutu.

Saat di perjalanan untuk pulang, Yoo Rin tidak sengaja melihat sosok Yamako dari kejauhan, ia langsung membalikkan badan dan berjalan dengan cepat.
“Aku tidak akan bertemu dengannya lagi, tidak akan.” kata Yoo Rin dengan yakin.
Tiba-tiba Yamako ada di depannya, “Hei, kenapa terburu-buru?” tanya Yamako sambil tersenyum dengan imut pada Yoo Rin. “Bagaimana bisa jalanmu secepat itu?” tanya Yoo Rin yang terkejut.
“Aku itu tidak lelet sepertimu dan aku menggunakan otakku yang super cerdas ini untuk berpikir bagaimana cara tercepat untuk mengejarmu.” kata Yamako.

“Minggirlah, leluconmu tidak akan membuatku tertawa, aku harus pulang.” kata Yoo Rin.
“Aku juga mau pulang, di mana rumahmu?” tanya Yamako dengan ramah dan penuh antusias.
“Kau menghalangi jalanku, minggirlah.” kata Yoo Rin.
“Santailah sedikit, apa kau ingin makan cokelat lagi?” kata Yamako sambil merangkul bahu Yoo Rin. Yoo Rin langsung melepaskan tangan Yamako dari bahunya.
“Aku sudah mengatakan padamu, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, memangnya kau ini siapa? Seolah kau benar-benar mengenalku, aku tidak mau melihatmu, aku mem…benci dirimu.” kata Yoo Rin dengan ragu.

“Kapan kau memintanya? Kau tidak pernah memintaku untuk menjauhimu, maka aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau inginkan.” kata Yamako. Yoo Rin terdiam mendengar Yamako.
“Aku … hanya … aku tidak tahu kenapa, jika kau tidak pergi aku saja yang pergi, kali ini aku memintamu untuk tidak mengikutiku lagi.” kata Yoo Rin.
“Aku menyukaimu, kaulah yang menjadi alasan bagiku untuk melakukan hal yang tidak kau minta, kau juga menjadi alasan bagiku untuk tetap memakan cokelat walaupun aku tidak suka cokelat, aku mohon jangan pergi begitu saja.” kata Yamako.

“Hentikan, kata-katamu hanya membuatku semakin …. tidak mengerti.” kata Yoo Rin.
“Aku juga tidak mengerti, aku bertemu denganmu baru beberapa hari yang lalu, tapi pertama kali aku melihat tatapanmu, kau merubah perasaanku menjadi lebih tenang seperti manisnya cokelat.” kata Yamako.
“Aku tidak mengerti, kau terus melakukan hal-hal yang tidak aku minta, itu membuatku menjadi berbeda, aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.” kata Yoo Rin.
“Kau juga merasakan hal yang sama sepertiku, tidak mengerti kenapa perasaanmu terus melawan pikiranmu.” kata Yamako yang perlahan berjalan ke arah Yoo Rin.
“Tidak mungkin aku menyukaimu, aku tidak bisa.” kata Yoo Rin.
“Bukan aku yang memintanya, tapi perasaanmulah yang menginginkannya.” kata Yamako. Yoo Rin langsung pergi meninggalkan Yamako, Yamako hanya diam dan membiarkan Yoo Rin pergi.

Beberapa bulan kemudian, Yoo Rin pergi ke mini market untuk membeli cokelat, ia memperhatikan cokelat yang beraroma cherry. Saat Yoo Rin memegang cokelat itu, ada tangan orang lain yang juga hendak mengambil cokelat itu, Yamako. Mereka saling bertatapan dan tersenyum. “Yamako.” kata Yoo Rin menyebut namanya sambil tersenyum.
“Yoo Rin, kau bukanlah gadis lelet lagi.” kata Yamako, Yoo Rin menatap lurus Yamako.
“Kau adalah Choco Cookiss pertamaku.” kata Yamako, mereka berdua sama-sama tersenyum.

The End

Advertisement